TERNATE, MUTODAY.ID – Beberapa hari terakhir, warga di Ternate, Tidore, hingga Halmahera mengeluhkan suhu udara yang terasa sangat menyengat dan "bikin gerah" meski terkadang masih ada awan. Ternyata, fenomena ini bukan suatu kebetulan.
Berdasarkan peta prediksi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Maluku Utara sedang bersiap menghadapi musim kemarau yang "tidak biasa" dengan sifat hujan yang diprediksi berada pada kategori Bawah Normal.
Berdasarkan data peta Awal Musim Kemarau 2026 milik BMKG, wilayah Maluku Utara masuk dalam kategori yang cukup beragam namun sangat krusial untuk diwaspadai. Mulai periode Mei hingga Juni, beberapa wilayah di bagian Selatan Maluku Utara, seperti sebagian Kepulauan Sula dan Halmahera Selatan, diprediksi mulai memasuki masa transisi kering yang menandakan berkurangnya curah hujan secara bertahap.
Kondisi ini akan terus bergerak hingga mencapai puncaknya pada bulan Agustus, di mana sebagian besar wilayah Maluku Utara diprediksi akan merasakan dampak kekeringan paling terasa, selaras dengan pergeseran musim yang ditunjukkan oleh kode warna pada pemetaan cuaca nasional.
Meskipun banyak wilayah di Maluku Utara yang termasuk dalam Tipe 1 Musim—yang secara teknis tidak memiliki batas yang jelas antara musim hujan dan kemarau karena sering terjadi hujan sepanjang tahun—BMKG memberikan peringatan khusus bahwa sifat hujan kali ini bersifat Bawah Normal.
Hal ini berarti intensitas hujan yang turun akan menurun drastis dari rata-rata biasanya, sehingga penguapan menjadi lebih tinggi dan suhu udara terasa jauh lebih panas dari hari-hari normal. Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dan mewaspadai dampak suhu ekstrem ini terhadap kesehatan serta potensi kebakaran lahan di area perkebunan.
MUToday 2026
sumber: Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG - Analisis Dinamika Atmosfer 2026.
